Rabu, 10 Juni 2015

Geuriwohaeyo Nijyu Hachi (28)

Kesan yang berbeda dengan orang yang berbeda. Iya, aku percaya itu. Tidak terasa bukan kita sekarang sudah memasuki akhir semester delapan. Kita sudah benar-benar disibukkan dengan dunia skripsi kita masing-masing. Selamat buat yang sudah sempro (Mlitos, Cilok, Mehong), selamat juga buat yang judulnya sudah diterima semuga segera menyusul buat sempro. Hahaaa... ngapain ya bahas skripsi, mungkin sedang malas untuk dibahas. Eh buat yang sedang S2 atau yang sudah mengabdi sebagai guru ataupun yang bekerja dibidang lain juga selamat.

Sudah lama rasanya aku tak mendengar kabar kalian, kalaupun tau dan mendengar itupun hanya secuil dari kabar kalian. Aku harap dimanapun kalian saat ini, kalian baik-baik saja. Akhir-akhir ini kalian kemana saja? Ah, kalian bukanlah orang-orang yang akan membenamkan diri didalam setiap halaman buku bacaan tiap menitnya tanpa melakukan penghijauan dengan mata lewat indahnya semesta atau bahkan sekedar menghirup udara diluar jendela.

Aku baru saja dari wedi ireng yang saat ini sedang beranjak menuju puncak popularitasnya. Ya mungkin sudah bulan februari lalu kesana sebelum ada trageni sepasang kekasih yang hanyut disana. Wedi ireng berarti pasir hitam, seperti artinya, akupun meghayalkan akan melihat permadani dari pasir hitam ketika aku kesana, namun sayangnya hanya karpet pasir hitam yang terbentang disana, hanya sekian centi yang berpasir hitam selebihnya disana tetaplah berpasir putih. Seperti pantai selatan lainnya, disinipun memiliki ombak yang besar dan menyenangkan. Sayang skali kali ini tak satupun dari kalian yang ikut dan menikmati pemandangan disini. Pasti berbeda rasanya kalau kesini dengan kalian, ditemani gelak tawa dimana hanya kita yang tahu maknanya. Banyak yang bilang bahwa wedi ireng adalah raja ampatnya Banyuwangi. Kapan-kapan kalian harus menikmati keindahan alam disini ya.

Yang paling baru kemaren aku bermain ke kawah wurung. Terbitnya matahari  kalau disaksikan dari sini begitu menawan, bak perawan yang sedang malu karena jatuh cinta, Cantik sekali. Ditemani segelas kopi, sebuah tenda dan ayam hasil bakaran rame-rame memang memiliki cita rasa yang berbeda. Namun kembali disayangkan, kali ini kalianpun tidak berada disini untuk menikmati indahnya matahari terbit yang disambut tarian sang ilalang dan gagahnya puncak-puncak gunung. Kita juga dapat menikmati indahnya puncak raung yang bersanding dengan puncak suketan dari sini. Dapat pula menikmati sapi putih yang mencari makan dipadang rumput di bawah kita. Mungkin lain waktu kita dapat kesini bersama-sama. Kalaupun kalian tidak ingin kesini, kalian bisa kemana sajalah, terserah, asal dengan kalian, dimanapun tempatnya akan menyenangkan dan mempunyai kesan tersendiri, karena akan selalu ada labirin tersendiri buat masing-masing dari kalian dihatiku yang tidak akan pernah mampu digantikan oleh siapapun. Sebanyak apapun kenangan yang kita buat bersama akan selalu ada tempat untuk menempelkan kenangan-kenangan itu.

Aku harap kita akan segera menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Dan semuga sebelum kita dipisahkan dengan toga dan kata wisuda kita benar-benar akan punya kenangan manis bersama, iya kita ber-17 (28/MPS). Aku kangen kalian rek :’(

Selamat Datang Skripsi



Selamat datang skripsi...
Tidak terasa sudah semester tua, sudah waktunya berkenalan dan mengikat janji dnegan yang namanya skripsi. Memang butuh keberanian untuk menyatakan “bersedia’ dengan yang namanya skripsi. Karena aku dan skripsi tidak hanya akan bersama selama beberapa hari dan minggu saja, namun bisa berbulan-bulan aku bersamanya.

22 Mei 2015, sebuah tanggal yang aku pilih untuk memberanikan diri mengikat janji dengan skripsi setelah sekian bulan aku berkenalan dan mengabaikannya, kuikat janjiku dalam map merah yang didalamnya berisi 3 proposal skripsi dan 2 lembar font pengajuan judul. Kuajukan judul skripsiku tepat pukul 10.00 WIB pada pihak akademik fakultas yang disertai dengan merapat mantra semuga, semuga judulku diterima dan hubungan kita lebih mulus dari jalan tol.
Aku hitung hari-hari yang aku lewati untuk menunggu hari pengumuman judulku diterima, menghadap kombi atau ang paling menyakitkan adalah adanya kemungkinan untuk ditolak. Bahkan detak jarum jam didinding terdengar begitu nyaring hingga memekakkan telinga, kenapa waktu ini berjalan begitu lambat. 2 minggu, iya 2 minggu aku menghitung hari yang kulewati dan tiap jamnya aku melihat detakan jarum di jamku. Mungkin 2 minggu adalah waktu yang singkat apabila diisi dengan perkuliahan namun sayangnya 2 minggu tak sesingkat itu, 2 minggu bagaikan menunggu bulan ramadhan yang datang setiap tahunnya.
Tepat hari kamis, 04 juni 2015 adalah waktu untukku melihat hasil pengajuan judul skripsiku. Kulankahkan kaki menuju papan pengumuman akademik untuk melihat hasilnya, dan Alhamdulillah judulku diterima disertai nama DPU, DPA yang akan menjadi orangtuaku untuk berbagi keluh kesah tentang hubunganku dan skripsi ini. Sekaligus ada 2 orang penguji yang suatu hari akan mengetas seberapa dekat hubunganku dengan si skripsi ini.

Langkahku dan skripsi belum berhenti disana, aku harus mengambil berkas yang sudah aku berikan kebagian akademik sebelumnya untuk melanjutkan hubunganku dengan skripsi ke jenjang yang lebih serius lagi. Sayang seribu sayang petugas dimana aku mengambil berkas tersebut tidak ditempat yang akhirnya harus kuambil keesokan harinya, karena hari ini aku telah menunggunya hingga jam kerja usai namun is petugas tidak juga kembali ke singasananya. Namun sayang, keesokan harinya aku juga harus menunggu dan pulang dengan tangan kosong tanpa berkas ditas atau ditangan. Terkadang aku bingung, di dalam istana petugas tersebut bukan hanya 1orang didalamnya, tetapi lebih dari 3 orang. Lalu orang yang lain tugasnya apa? Kenapa setiap ada keperluan harus menunggu satu orang itu saja? Padahal orang yang berada didalam sana tidak sedang melakukan tugas yang penting lainnya. Terkadang mereka sedang makan atau mengobrol belaka, namun ketika ada sang raja di dalamnya salah satu dari orang yangbiasanya hanya diam saja mengajukan diri untuk melayani pengajuan berkas. Yah, hubungan kita memang gak akan lebih mulus dari jalan tos Skripsi, tapi tenanglah kita akan mencapai finis bersama.
Keesokan harinya baru aku dapatkan berkas tersebut setelah menunggu setengah hari lebih dikampus. Selanjutnya kita harus meminta bubuhan tanda tangan kombi pada lembar pengajuan judul kita yang sudah diterima. Dan harus menunggu sampai sore hari bahkan keesokan harinya. Tidak lupa pula mengupload proposal yang sudah kita ajukan. Dan tentu saja tidak lupa mengingatkan kombi untuk menyetujui uploadtan proposal kita.
Sehari, dua hari, iya dua hari baru disetujui dan kita dapat meminta surat tugas DPU dan DPA ke bagian akademik, yang ditemani dengan bolak balik ke bagian umum meminta nomor surat, ke sekretaris dekan antri tanda tangan yang Alhamdulillah selesai dalam waktu sehari. Perjalanan kita masih panjang Skripsi, yang sabar ya, dan jangan patah semangat. Besok kita harus menghadap ke DPA dan DPU untuk menyerahkan surat tugas dan revisian. Cerita kita belum selesai dan masih panjang jadi kamu yang tabah ya. Kita pasti bisa kalau bersama-sama. Kita saling mengusahakan yang terbaik ya. ^­_^

Welcome To My Life-Benih Baru Sinar Harapan Alam

To be hurt To feel lost To be left out in the dark To be kicked When you're down To feel like you've been pushed around To be on the edge of breaking down And no one's there to save you No you don't know what it's like Welcome to my life...

Sedikit cuplikan dari bait lagu yang dinyanyikan oleh Simple Plant. Band terkenal dari USA. Welcome to my life, seperti judul lagu itu yang santer terdengar pada video yang dibuat untuk angkatan kita, 28 MAPENSA. Sepenggal Cerita Dari Kami Angkatan 28 MAPENSA, merupakan judul yang kita pilih bersama sebagai pembuka video angkatan kita yang ditampilkan dalam DIRGAHAYU MAPENSA yang ke-39.
Dimulai dari kita perlihatkan perjuangan dan perjalanan kita selama DIKLATSAR 5 hari di TN Meru Betiri. Benih Baru Sinar Harapan Alam, menjadi tema bagi DIKLATSAR angkatan kita. Dimana pada video itu kita perkenalkan diri dan angkatan kita kepada smua anggota MAPENSA yang hadir pada tasyakuran DIRGAHAYU MAPENSA yang ke 39. Dimuali dari Ilham Robi H yang memiliki nama lapang ABK (Aku Benci Kamu), Ngida Zulfa yang bernama lapang Nunung (Pemain Srimulat), Mas Dwi Erwin K yang bernama lapang Gogle (Goblok Gembleng), Siti Rahmawati yang bernama lapang Dumptruck, Loihumera Panganggit Banega yang bernama lapang Slundeng/Loichun, Adetyas Iin T yang bernama lapang Mehong (Mentok Bohong), Amanah Fitria yang bernama lapang Peditok, Siti Hajar yang bernama Lapang Remason (Obat Kaki Gemetar), Mbak Siti Nuraini yang bernama lapang Menor (Mentok Norak), Wahyu Fajar P yang bernama lapang Memes (Mentok Mesum), Laily Firdaus R yang bernama lapang Cilok, Yunan Furqona R yang bernama lapang Gedebuk, Ira Anggraeni T yang bernama lapang Nghooo, Firstyoryza Cahyo S yang bernama lapang Mencong (Mentok Bencong), Mas Afrin Nawandi S yang bernama lapang Menteg (mentok Tegang), Putri Septiana H N yang bernama lapang Mlitos (Mlijo Mentos) dan Mbak Damayanti Ratnasari yang bernama lapang BU RT.

Setelah smua angkatan 28 diperkenalkan maka tertulis sebuah pesan “Dari Kami Untuk MAPENSA, Angkatan 28, Angkatan Mentok”.  Setelah itu kita ceritakan kegiatan kita setelah melewati masa DIKLATSAR dan menjadi anggota baru yang akan memberi warna pada MAPENSA. Mulai dari kegiatan perayaan tahun baru, mulai dari bakaran jagung sampai menyaksikan ramainya alon-alon kota Jember. Happy camp di Argopuro selama satu minggu hingga kegiatan kita dalam belajar mencari uang dengan membuka stand foto wisuda dan yudisium. Diakhir video sebelum ucapan terimakasih kita kepada smua yang telah mendidik kita, kita selibkan sebuah kata “Sambutlah Kami... Angkatan 28”.

Welcome to my life, seolah menyihir hati pendengarnya. Setiap kali aku mendengar lagu ini aku akan selalu ingat dengan video angkatan kita, aku secara otomatis akan mengingat tentang kita, merindukan smua yang pernah kita lakukan bersama. Meski kini kita telah mulai menjalani kehidupan kita masing-masing, mulai dari skripsi, s2 dan bekerja aku yakin smuanya pasti pernah merindukan apa yang pernah kita lewati dan lakukan bersama, entah secara sadar atau tidak, diharapkan atau tidak, mau ataupun tidak. Semuga kita akan benar-benar menjadi “Benih Baru Sinar Harapan Alam”.
Jember, 090615,15.30 WIB

Senin, 18 Mei 2015

Kita dan Kenangan 45 Hari Itu

45 hari adalah hari-hari yang banyak ketika kau menghitungnya dengan jarimu, karena jumlahnya lebih banyak daripada dua pasang kaki dan tanganmu. 45 hari adalah waktu yang lama ketika kau melihatnya dalam kalender, karena disana hanya ada 30-31 hari dalam 1 bulan. Namun 45 hari adalah waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. 45 hari adalah waktu yang cepat berlalu ketika kau melewatinya dengan banyak kegiatan dan orang yang menyenangkan.

Pertemuan kita dimulai ketika ada pembagian kelompok untuk mengabdi ditengah masyarakat. Awalnya kita berjumlah 10 orang, pertemuan pertama yang canggung. Banyak kata yang berputar didalam kepala namun ternyata mulut yang tak mau bekerjasama. Pertemuan kedua yang mulai mencair bak bongkahan es yang terkena paparan sinar sang mentari. Mulai terasa adanya kehangatan dari sebuah senyuman. Namun sayang 10 orang ini harus terpisah menjadi 2 kelompok.

05 januari 2015, sebuah keluarga kecil baru mulai memperlihatkan tunasnya yang indah. Hidup dalam rumah yang sama menjadikan pertengkaran-pertengkaran kecil diantara kita hal yang biasa. Perbedaan pendapat dan perdebatan yang tak jarang selalu menjadi pengantar tidur kita sebelum bertemu dengan mimpi. Bahkan sebuah kejutan sederhana yang kita berikan pada salah satu anggota menambah daftar kenangan 45 hari kita.

Setiap hari kita isi dengan kegiatan secara bersama, menyaksikan terbitnya mentari diantara daun-daun tembakau yang menghijau, menyaksikan tenggelamnya mentari yang enggan tenggelam di punggung sang raung. Kita buat sang bintang dan bulan malam iri dengan canda tawa yang renyah, seolah kita sudah saling mengenal satu sama lain dalam waktu lama.

Ketika kejenuhan melanda, maka akan kita isi dengan permainan kartu dimana hanya kita yang tahu cara bermainnya, atau kalau tidak kita akan berlomba memainkan game plant vs zombie di laptop masing-masing. Ketika penyanyi dalam perut mulai berdendang maka kejenuhan dapat kita hilangkan sejenak lewat acara memasak bersama, bukan masakan mewah bak restoran ataupun tempat makan elit yang lain, namun rasanya lebih nikmat daripada makanan restoran termahal sekalipun di dunia ini, entah apapun menunya akan kita bilang enak dan habis. Dan ketika kita benar-benar jenuh maka kita akan menghilangkannya dengan berputar-putar meninggalkan posko untuk sekedar menghilangkan kejenuhan dan penat, kalau sedang beruntung maka kita akan bertandang ke posko teman yang lain dan bersilaturahmi dengan mereka.

Sayang sekali, kebersamaan ini begitu cepat berlalu. Aku merasa masih ingin mengenal kalian. Masih banyak hal yang ingin kulakukan bersama kalian. Masih banyak janji dan agenda kita yang belum terselesaikan. Entah besok, lusa ataupun suatu hari nanti semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu sekedar mengabarkan bahwa kita smua baik-baik saja dan telah “berhasil menjadi Orang’.

Selasa, 12 Mei 2015

GUMUK DI JEMBER MULAI HABIS, WASPADA !!

Kabupaten jember terkenal dengan istilah 1000 gumuk. Gumuk terbentuk atas letusan Gunung Raung di masa lampau. Sejarah mencatat letusan terlampau Gunung Raung di abad 16 (1500-an Masehi), sebelum itu tidak tercatat. Tercatat juga letusan terdahsyatnya di abad 17 (sekitar 1628 M) [Sumber data : RZ Hakim]

Gumuk adalah sebuah gundukan tinggi serupa gunung kecil dan bukit. Namun tak sama dengan keduanya. Ada beberapa anggapan keliru yang menyatakan bahwa gumuk adalah bukit. Padahal jelas, keduanya berbeda. Karena kandungan antara bukit dan gumuk memliki perbedaan yang jelas. Gumuk masuk dalam pertambangan galian C dengan muatan batu piring, pasir, batu pondasi, kalau bukit sebagian besar kandungannya adalah tanah biasa. Dan masing-masing memiliki keunggulannya sendiri.

Awalnya aku tidak tahu dan mengerti apa itu gumuk. Dan bahkan aku tidak mengerti bahwa “Jargon” yang tersemat dalam tubuh kota Jember adalah “Kota Seribu Gumuk”. Setelah sekian bulan di Jember dan mengikuti UKM Pencinta Alam di Fakultasku aku baru tahu apa itu gumuk. Yang paling membuatku berdecak heran adalah ternyata masih banyak masyarakat jember yang tidak tahu apa itu gumuk, apa saja fungsinya dan bagaimana pemanfaatannya. Mengherankan? Tentu, karena masyarakat Jember setiap hari bergelut dengan gumuk, entah secara sadar ataupun tidak. Yang mereka tahu gumuk adalah sumber penghasil uang emas yang menggoda. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gumuk yang dieksploitasi, mulai dari yang diambil batuan di dalamnya hingga diratakan tanahnya dan diubah menjadi perumahan penduduk ataupun pertokoan.

Mungkin banyak yang lupa atau bahkan tidak tahu bahwa Jember di kelilingi beberapa gunung tinggi di sekitarnya ada gunung raung dengan ketinggian 3344 mdpl yang memiliki kecepatan angin yang tinggi, bahkan nama salah satu pos dari gunung raung yaitu pondok angin, bisa dibayangkan bukan “Pondok Angin”, bagaimana keadaan angin disana? Selain itu ada gunung Argopuro yang memiliki ketinggian 3088 mdpl, dataran tinggi ijen, gunung semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 mdpl, yang mana keempat gunung tersebut mengelilingi wilayah kabupaten jember.

Menurut penjelasan RZ hakim mengenai gumuk: Fungsi gumuk sendiri di kabupaten Jember ialah melindungi Jember dari adanya angin kencang yang turun dari pegunungan yang berada di sekitar kabupaten jember sehingga tidak menghantam langsung ke jember, sehingga terjadi penetralan kecepatan angin sewaktu memasuki Jember. Jika tidak ada gumuk maka kekencangan angin yang turun dari gunung akan langsung menghantam Jember. Fungsi lainnya ialah sebagai perputaran ekosistem yang ada di gumuk tersebut, karena menurut mas Hakim sendiri beragam jenis hewan hutan masih terdapat di gumuk. Status gumuk di sini ialah milik tanah pribadi jadi pemilik bisa menjual tanah gumuknya pada sapa saja.

Ciri khas jember yang memiliki 1000 gumuk pun terkikis oleh para investor yang melakukan penambangan di beberapa gumuk. Dari beberapa Pencinta Alam dan teman teman #savegumuk jember mengatakan data terakhir yang mereka kumpulkan sekitar 600-an gumuk yang tersisa. Gumuk di jember yang mulai habis pun menimbulkan effect bencana salah satunya ialah puting beliung yang baru saja terjadi. Lihat saja beritanya di tempo. Nah ada salah satu foto yang tanpa gue sadari setelah gue naikin tonal contrasnya, awan tersebut seperti membuat lingkarangan angin.

MAPENSA, sebagai salah satu Pencinta Alam yang ada di Jember berusaha untuk menyelamatkan gumuk yang ada di Jember. Sampai saat ini MAPENSA hampir memiliki sebuah Gumuk yang berada di Desa Antirogo. Kenapa hampir? Karena gumuk yang dimiliki MAPENSA saat ini dulunya merupakan milik perseorangan (seperti gumuk-gumuk lainnya), jadi sebuah gumuk dimiliki oleh beberapa orang dan hingga saat ini baru ¾ dari gumuk tersebut yang telah menjadi milik MAPENSA. Semuga secepatnya MAPENSA mampu memiliki sebuah gumuk dan dikemudian hari MAPENSA mampu memiliki beberapa gumuk. MAPENSA membeli gumuk tidaklah dimaksudkan untuk ditambang melainkan untuk menyelamatkan dan menyediakan tempat untuk koleksi tanaman (baik langka maupun produksi) milik MAPENSA untuk hidup. Dan bila suatu saat smua gumuk yang ada di Jember telah ditambang ataupun dieksploitasi maka masih akan ada gumuk MAPENSA. Walau mungkin MAPENSA tidak mampu memiliki banyak gumuk, namun MAPENSA mampu menyelamatkan minimal 1 gumuk yang nantinya, mungkin, akan menjadi cerita dan legenda bagi masyarakat Jember.
Selain MAPENSA teman teman #savegumuk di jember pun sedang mengumpulkan dana untuk membeli sebuah gumuk sebagai wujud untuk menyelamatkan gumuk dari tangan investor. Dimana #savegumuk ini dirintisoleh para remaja pers yang mulai khawatir dan peduli terhadap lingkungan.

Alfonso, A,2015 (dg sedikit gubahan)

Senin, 11 Mei 2015

Sepasang Angsa Cantik di Tahun 2015

25 maret tahun ini jatuh pada hari rabu, tepat dihari aktif kuliah dan aku lupa ada apa di tanggal ini karena tepat sebelum pergantian tanggal aku masih disibukkan diskusi tentang kegiatan di UKM yang aku ikuti, hingga akhirnya aku dikirimi pesan singkat oleh temanku

“Happy B’day”


Ah iya 25 maret adalah hari ulang tahunku, dan tahun ini usiaku sudah berlukiskan sepasang bebek, 22 tahun, bukan usia remaja lagi sepertinya. Padahal aku dan dia sekarang sedang berada pada sebuah forum yang sama hanya terpisah sekian meter saja. Akupun membalas pesan singkatnya dengan “Masih belum” dia bilang “Sudah” tapi sayang di hpku masih kurang sekian menit, setelah jam di hpku menunjukkan pukul 00.00 aku mengirim pesan ke temanku tadi

“Happy b’day juga Mbar”

Kita bukan saudara kembar, bukan pula saudara seayah dan seibu, kebetulan kita dilahirkan oleh Ibu masing-masing pada tanggal, hari, dan tahun yang sama

“25 Maret 1993”

Bedanya aku lahir di pagi buta dia di siang harinya. Dan yang lebih kebetulan kita dipertemukan pada sebuah UKM yang sama “MAPENSA”. Dia adalah satu-satunya temanku yang memiliki tanggal lahir sama denganku hingga hari ini. Setelah diskusi ringan selesai adek-adek UKMku juga banyak yang mengucapkan. Aku adalah tipe orang yang mudah terpesona oleh hal-hal yang banyak orang bilang itu sederhana namun buatku itu luar biasa. Dan mengucapkan selamat dimalam pergantian adalah sesuatu yang sederhana namun luar biasa untukku. Pada hari itu banyak ucapan dan doa mengalir untukku. Ada yang lewat sosmed, lewat sms, telfon, doa-doa yang terapalkan tulus lewat bibir-bibir mungil, dan banyak lagi yang lainnya.

Ternyata setelah tanggal 25 berakhir belum mengahiri perayaan ulang tahunku ditahun ini. 27 Maret aku masih mendapat kejutan dari teman-teman kosan. Siang itu mbak kosku jatuh dari tangga kosan dan kesiram air panas. Malam harinya ketika aku masih diskusi aku mendapat sms “Dek aku mimisan” otomatis aku ijin meninggalkan forum dan pulang ke kosan berniat untuk melihat keadaan dari mbak kosku. Begitu aku sampai kosan mbk kosku istirahat dikamarnya, akupun berniat mengambil selimut dikamar, ketika membuka kamar ada sesuatu yang berbeda dilantai kamarku. Ada sebuah tulisan dengan spidol biru
“25-03-1993
25-03-2015
Heppy B’Dey Tria”
Terkejut? Iya tapi sekejab, karena aku kembali berfikir mbk kosku butuh selimut, ambil selimut, kasihkan mbak kos dan memasak air untuk membuatkan minum hangat.Masih mencuci panci ada mbak kosku yang lain datang dan ternyata menyiram air satu timba keatas kepalaku. “Ternyata ini Bohong Belaka :D” Gak ada yang sakit mimisan. Kejutan belum selesai, masih ada adegan siram tepung keaku (untung gak ada lempar telur). Karena kejadian ini aku harus mandi ditengah malam. Selesai mandi masih ada kue dan lilin yang menanti. Bukan kue tart mahal, bukan pula kue mahal yang lainnya. Hanya kue gulung sederhana yang berwarna warni namun terasa begitu indah dan hangat. Karena di dalamnya ada serentetan doa dan harapan dari yang memberi disertai pertemanan. Selesai tiup lilin, potong kue, suap-suapan dan foto-foto aku harus kembali ke tempat diskusi. Terimakasih kawan.

Keesokan harinya ternyata masih hariku. Ketika aku pulang dari kampus di sore hari aku menemukan bingkisan cantik yang duduk manis diatas ranjang kamar kosku. Berisikan boneka kesukaanku dan botol air yang smuanya berwarna kesukaanku. Tak hanya itu, di dalamya ada surat yang bertuliskan tangan cantik dari sang pemberi. Didalamnya berisikan ucapan maaf, selamat ultah, doa, kerinduan dan harapan kabar baik dariku dan yang paling tak mengenakkan ada pamitan darinya. Dia akan pergi sekian bulan ke luar kota, bukan kota dengan jarak sekian puluh kilo tapi lebih dari 100 Km. Dan surat inilah yang memotivasiku untuk segera membuat sesuatu kabar baik untuknya.

Sepasang angsa yang berkesan, semuga akan banyak ilmu dan kebaikan untuk sepasang bebek ini nantinya ^_^

Rabu, 01 April 2015

Latah, Mendadak Pendaki

Sepertinya sekarang ini dunia Pencinta Alam yang berorientasi dan terkenal dengan naik gunung sedang sangat digemari, bahkan oleh masyarakat yang dahulunya berkata bahwa naik gunung itu gak penting, bikin capek, bikin kumel, dan perkataan tidak mendukung bahkan terkesan mengejek. Ya, memang masyarakat Indonesia itu ‘Latah’, dan latahnya dimulai dari apa yang mereka tonton dan disukai bahkan yang dikenakan oleh idolanya. Dan karena yang diidolakan itu adalah artis-artis di televisi maka wajar saja kalau sekarang ini banyak masyarakat yang ‘Sok Ngartis’.
Latah tentang naik gunung terbaru terjadi karena adanya film 5 Cm yang membodohi para penontonnya dengan mengajarkan naik gunung tanpa persiapan dan perlengkapan yang benar. Hal ini dapat dilihat dari ramainya gunung-gunung dengan pendaki yang memakai celana jeans ketat, jaket kain tipis, tas cantik kecil mungil dan unyu-unyu dengan barang bawaan yang dipegang tangan bahkan dipanggul. Bayangkan, dibahu kita ada tas unyu-unyu (yang entah isinya apa?) ditangan kanan ada SB, dan kita masih memanggul tenda dome yang dibantu memegang dengan tangan kiri, nah tiba-tiba kita tergelincir pas mau naik, lalu apa yang terjadi? Kita mengikhlaskan diri untuk jatuh bebas atu mengikhlaskan barang-barang diluar tas terjun bebas tanpa ikhlas ditambah dengan semprotan dari teman-teman? Silahkan difikirkan.

 Belum lagi konsumsi yang dibawa hanya berupa mie instan, nah kalau naik gunungnya selama 1 minggu dan makannya 2x dalam 1 hari maka 14 kali kita makan mie instan. Sedangkan menurut dokter kesehatan., mie instan cukup dimakan 1 minggu 1 kali, itupun rentang waktu yang paling singkat untuk mengkonsumsinya. Nah kalau selama 1 minggu kita makan mie terus menerus sudah pada tau dampaknya bukan? Kalau gak begitu pada bawa makanan lain yang judulnya tetep ‘instan’, nah tau sendiri bukan dampak dari makanan instan? Pasti ada bahan pengawetnyakan, kalau selama 1 minggu kita makan makanan instan jadi sudah berapa banyak pengawet yang kita timbun di dalam tubuh kita? Dan bila di dalam tubuh kita banyak tersimpan bahan-bahan kimia, pengawet, maka dalam waktu lama akan berdampak pada kesehatan kita bukan....
Hal lainnya yang sering terlupakan oleh para MARP.A adalah obat-obatan. Kalau di film 5 CM, ketika kita terluka cukup dengan menggunakan plaster dan kita sudah bisa berjalan normal kembali. Bohong banget dan pembodohan akut bukan? Mendaki gunung resiko terluka parah itu selalu ada, kalau kita tiba-tiba jatuh kejurang atau kawah apakah kita bisa langsung memberi plaster dan orang yang jatuh kejurang atau kawah sudah bisa berjalan normal kembali? Tidak, apabila jatuh ke jurang atau kawah kita membutuhkan webbing untuk membawa si korban dari jurang atau kawah tersebut. Belum lagi kita membutuhkan parang untuk membuka jalan demi menolong korban. Atau mungkin pada mau ninggalin yang jatuh tersebut? Tega bener Bung. Atau tiba-tiba temen kita mengalami sesak nafas, apa kita bisa kasih plester terus sembuh? “Loh temenku yang tak ajak mendaki gak punya penyakit asma dan sehat walafiat kok”, kita gak akan pernah tau kejutan yang akan diberikan oleh alam kepada kita. Bisa jadi temen kamu yang diajak mendaki adalah orang yang menurut kamu paling kuat diantara yang lain tapi ternyata kejutan dari alam itu berbeda, teman yang kamu anggap paling sehat ternyata dia kena asma diketinggian sana, atau terkena hipotermi. Nah, sebuah kejutan besar bukan. Kalau kalian mempunyai ilmu PPGD yang cukup baik mungkin hal yang mengejutkan tersebut tidak membuat kamu panik sampai pengen terjun bebas kejurang, tapi kalau kamu tidak punya bekal sama sekali tentang PPGD maka bisa dipastikan kamu lebih memilih berjalan jauh menuju puncak tapi temanmu baik-baik saja atau mungkin piilihan kamu jatuh pada terjun bebas dijurang atau kawah, biar gak bingung ngurusin temen kamu yang sakit (sadis amat ya....). belum lagi di film 5Cm itu diceritakan kalau ada yang terkena batu besar ketika perjalanan kepuncak, ada yang terkena telinganya ampek berdarah dan berdenging sebentar, lalu sembuh. Dan yang lebih parah adalah si cowok yang kepalanya terkena batu besar dan baik – baik saja. Itu  adalah hal yang benar-benar ‘MUSTAHIL’ dan ‘BOHONG”. Bagaimana bisa orang terkena batu sebesar itu namun baik-baik saja, padahal kenyataannya ada yang terkena batu yang jauh lebih kecil dari yang di film 5cm itu sudah patah tulang dan pecah kepalanya serta gegar otak.

Belum lagi, sekarang ini banyak yang pada nekat naik gunung tanpa membawa GPS ataupun peta (bahkan ada yang belum pernah berjumpa dengan peta apalagi bisa baca peta) dan keahlian membaca tanda alam lainnya. Dan ternyata gunung yang kalian daki mempunyai jalur yang cukup bikin kepala puyeng. Awalnya sih kalian pada bilang, ‘udah deh berangkat aja. Toh disana ada jalannya kok, “paling” juga ada tandanya entar.’ Dan akhirnya kalian berangkat dengan membawa “Paling” dan ‘bondo nekat’ dari rumah. Eh ternyata sampai disana jalurnya bikin orang pengen terjun bebas karena banyak banget percabangan. Masih untung kalau ada marka walau jarak antar marka gak normal (lebih jauh dari jarak marka normal) atau kalau pas mujur ketemu orang yang sedang naik gunung, jadi bisa nanya. Nah kalau marka dan orang gak ada trus yang kalian lakuin apa? Pada mau nanya ke pohon? Nanya ke hewan disana? Oh iya aku lupa kalau sekarang banyak grub-grub di sosmed yang memfasilitasi para’PENDAKI GUNUNG DADAKAN’untuk naik keatas sana. Dan gak lupa, banyak juga yang dengan bangganya nulis di dinding grub ‘Permisi mbk2 dan mas2, aq rencananya sama temenq berdua nih mau kegunung A pada tanggal sekian. Adakah yang mau gabung dan isa bantu kasih tau jalurya? Maklum mas/mbk, masih pemula’ -_- dan dengan gesitnya para anggota grub ini segera berlomba-lomba menunjukkan eksistensi dan dirinya masing-masing memberikan komentar ke status tersebut dengan kata2 ‘Ah mbk lewat jalur sini aja lebih gampang’ ‘sama aku aja mbk nanti tak kasih tau jalurnya’ dan banyak komentar sejenis. Tanpa memperhitungkan A,B, C,,,,, Z. Kalau ada yang posting foto sedang berada di tempat A, B, C dll pada bereput buat posting nanya dimana itu, jalurnya lewat mana, biaya habis berapa dan sejenisnya tapi ketika ada yang posting di grub tentang hal-hal positif mendaki gunung eh malah gak ada yang nanggepin, bahkan sekedar kasih jempol aja ogah (MIRIS).
Sepertinya banyak yang pada salah tangkap dengan film 5 cm ini. Kalau menurut aku pribadi nih ya, film 5 cm itu sebenarnya gak menceritakan tentang mendaki gunung apalagi keamanan dan manajemen yang baik saat mendaki, tetapi lebih pada persahabatan. Lebih pada kerja keras dan keyakinan dalam mencapai sebuah impian. Hanya saja sebuah kerja keras, keyakinan dan persahabatan yang dibalut dan dibumbui oleh kegiatan mendaki gunung. Yang mungkin juga skalian memperlihatkan keindahan indonesia serta sedikit menyentil kita untuk lebih mencintai negeri sendiri. Daripada kita sering keluar negeri untuk menikmati libur panjang dengan biaya yang tidak sedikit maka kenapa tidak untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga untuk mengajarkan anak kita mencintai negeri sendiri lewat keindahan alamnya, akan tetapi dengan tetap menjaga keindahan, kebersihan dan keasriannya. Tidak dengan cara merusak yang sudah ada dengan yang baru dimana hal yang baru tersebut dirasa lebih modern akan tetapi dampak panjangnya memusnakan yang ada bahkan endemik di suatu daerah atau kawasan. Misal nih, mandi di danau, nah loh, itu aer danau kan dibuat minum, masak dan lain sebagainya kok ya masih dibuat mandi, apa kita mau minum dan makan dari kotoran yang ada di tubuh kita atau danau yang dibuat untuk mencuci sisa-sisa masakan nah loh itukan mau dibuat masak lagi masak iya kita mau masak pakai air yang kotor? Air danau kan gak mengalir selayaknya air sungai ataupun air laut Bung, jadi butuh waktulebih lama untuk tanah menyaringnya menjadi bersih. Eits bukan berarti kita isa seenaknya membuang sampah atau apapun kedalam sungai atau laut lo yaaaa... ayolah kenali alam indonesia namun tetap mencintai dan menjaganya demi anak cucu kita kelak ^_^
Ternyata ‘Latah’ naik gunung gak hanya terjadi karena film 5 cm aja, dulu sekitar tahun 2005 ada juga film yang bercerita tentang alam dan sedikit dunia kepencinta alaman, SOE HOK GIE. Tetapi film ini berbeda dengan 5 CM.  Dimana pada film ini lebih bercerita tentang seorang mahasiswa UI yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta. Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai. Lebih pada mahasiswa yang kritis, jujur dan cinta indonesia. Tapi sayang, Gie harus meninggalkan dunia dipelukan tanah tertinggi di Pulau Jawa dengan cita-citanya yang sampai sekarang belum terwujud.
dan yang akan datang ada Film "Romeo Rinjani". Entah filem ini akan membawa penonton ke arah mana dan memiliki nilai edukasi yang seperti apa. Namun kalau dilihat dari cover luarnya maka perkiraanu filem ini akan berdampak tidak berbeda jauh dengan film-film petualangan naik gunung yang sebelumnya. dilihat dari pakaian yang digunakan pemain film tersebut dari cover saja sudha mengajarkan hal yang salah. mana ada orang yang mau mendaki menggunakan baju tak berlengan dan celana super duper pendek, emang mau lecet-lecet itu mbak pahanya yang mulus? apa mau pamer paha diketinggian sana?Ayo kawan jadi pendaki yang kritis dan pintar sedikitlah, kalau memang hal-hal dalam filem gak mendidik dan mengajarkan hal salah yang nantinya ditiru dan merugikan banyak orang kenapa kita diam saja?????