Senin, 18 Mei 2015

Kita dan Kenangan 45 Hari Itu

45 hari adalah hari-hari yang banyak ketika kau menghitungnya dengan jarimu, karena jumlahnya lebih banyak daripada dua pasang kaki dan tanganmu. 45 hari adalah waktu yang lama ketika kau melihatnya dalam kalender, karena disana hanya ada 30-31 hari dalam 1 bulan. Namun 45 hari adalah waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. 45 hari adalah waktu yang cepat berlalu ketika kau melewatinya dengan banyak kegiatan dan orang yang menyenangkan.

Pertemuan kita dimulai ketika ada pembagian kelompok untuk mengabdi ditengah masyarakat. Awalnya kita berjumlah 10 orang, pertemuan pertama yang canggung. Banyak kata yang berputar didalam kepala namun ternyata mulut yang tak mau bekerjasama. Pertemuan kedua yang mulai mencair bak bongkahan es yang terkena paparan sinar sang mentari. Mulai terasa adanya kehangatan dari sebuah senyuman. Namun sayang 10 orang ini harus terpisah menjadi 2 kelompok.

05 januari 2015, sebuah keluarga kecil baru mulai memperlihatkan tunasnya yang indah. Hidup dalam rumah yang sama menjadikan pertengkaran-pertengkaran kecil diantara kita hal yang biasa. Perbedaan pendapat dan perdebatan yang tak jarang selalu menjadi pengantar tidur kita sebelum bertemu dengan mimpi. Bahkan sebuah kejutan sederhana yang kita berikan pada salah satu anggota menambah daftar kenangan 45 hari kita.

Setiap hari kita isi dengan kegiatan secara bersama, menyaksikan terbitnya mentari diantara daun-daun tembakau yang menghijau, menyaksikan tenggelamnya mentari yang enggan tenggelam di punggung sang raung. Kita buat sang bintang dan bulan malam iri dengan canda tawa yang renyah, seolah kita sudah saling mengenal satu sama lain dalam waktu lama.

Ketika kejenuhan melanda, maka akan kita isi dengan permainan kartu dimana hanya kita yang tahu cara bermainnya, atau kalau tidak kita akan berlomba memainkan game plant vs zombie di laptop masing-masing. Ketika penyanyi dalam perut mulai berdendang maka kejenuhan dapat kita hilangkan sejenak lewat acara memasak bersama, bukan masakan mewah bak restoran ataupun tempat makan elit yang lain, namun rasanya lebih nikmat daripada makanan restoran termahal sekalipun di dunia ini, entah apapun menunya akan kita bilang enak dan habis. Dan ketika kita benar-benar jenuh maka kita akan menghilangkannya dengan berputar-putar meninggalkan posko untuk sekedar menghilangkan kejenuhan dan penat, kalau sedang beruntung maka kita akan bertandang ke posko teman yang lain dan bersilaturahmi dengan mereka.

Sayang sekali, kebersamaan ini begitu cepat berlalu. Aku merasa masih ingin mengenal kalian. Masih banyak hal yang ingin kulakukan bersama kalian. Masih banyak janji dan agenda kita yang belum terselesaikan. Entah besok, lusa ataupun suatu hari nanti semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu sekedar mengabarkan bahwa kita smua baik-baik saja dan telah “berhasil menjadi Orang’.

Selasa, 12 Mei 2015

GUMUK DI JEMBER MULAI HABIS, WASPADA !!

Kabupaten jember terkenal dengan istilah 1000 gumuk. Gumuk terbentuk atas letusan Gunung Raung di masa lampau. Sejarah mencatat letusan terlampau Gunung Raung di abad 16 (1500-an Masehi), sebelum itu tidak tercatat. Tercatat juga letusan terdahsyatnya di abad 17 (sekitar 1628 M) [Sumber data : RZ Hakim]

Gumuk adalah sebuah gundukan tinggi serupa gunung kecil dan bukit. Namun tak sama dengan keduanya. Ada beberapa anggapan keliru yang menyatakan bahwa gumuk adalah bukit. Padahal jelas, keduanya berbeda. Karena kandungan antara bukit dan gumuk memliki perbedaan yang jelas. Gumuk masuk dalam pertambangan galian C dengan muatan batu piring, pasir, batu pondasi, kalau bukit sebagian besar kandungannya adalah tanah biasa. Dan masing-masing memiliki keunggulannya sendiri.

Awalnya aku tidak tahu dan mengerti apa itu gumuk. Dan bahkan aku tidak mengerti bahwa “Jargon” yang tersemat dalam tubuh kota Jember adalah “Kota Seribu Gumuk”. Setelah sekian bulan di Jember dan mengikuti UKM Pencinta Alam di Fakultasku aku baru tahu apa itu gumuk. Yang paling membuatku berdecak heran adalah ternyata masih banyak masyarakat jember yang tidak tahu apa itu gumuk, apa saja fungsinya dan bagaimana pemanfaatannya. Mengherankan? Tentu, karena masyarakat Jember setiap hari bergelut dengan gumuk, entah secara sadar ataupun tidak. Yang mereka tahu gumuk adalah sumber penghasil uang emas yang menggoda. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gumuk yang dieksploitasi, mulai dari yang diambil batuan di dalamnya hingga diratakan tanahnya dan diubah menjadi perumahan penduduk ataupun pertokoan.

Mungkin banyak yang lupa atau bahkan tidak tahu bahwa Jember di kelilingi beberapa gunung tinggi di sekitarnya ada gunung raung dengan ketinggian 3344 mdpl yang memiliki kecepatan angin yang tinggi, bahkan nama salah satu pos dari gunung raung yaitu pondok angin, bisa dibayangkan bukan “Pondok Angin”, bagaimana keadaan angin disana? Selain itu ada gunung Argopuro yang memiliki ketinggian 3088 mdpl, dataran tinggi ijen, gunung semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 mdpl, yang mana keempat gunung tersebut mengelilingi wilayah kabupaten jember.

Menurut penjelasan RZ hakim mengenai gumuk: Fungsi gumuk sendiri di kabupaten Jember ialah melindungi Jember dari adanya angin kencang yang turun dari pegunungan yang berada di sekitar kabupaten jember sehingga tidak menghantam langsung ke jember, sehingga terjadi penetralan kecepatan angin sewaktu memasuki Jember. Jika tidak ada gumuk maka kekencangan angin yang turun dari gunung akan langsung menghantam Jember. Fungsi lainnya ialah sebagai perputaran ekosistem yang ada di gumuk tersebut, karena menurut mas Hakim sendiri beragam jenis hewan hutan masih terdapat di gumuk. Status gumuk di sini ialah milik tanah pribadi jadi pemilik bisa menjual tanah gumuknya pada sapa saja.

Ciri khas jember yang memiliki 1000 gumuk pun terkikis oleh para investor yang melakukan penambangan di beberapa gumuk. Dari beberapa Pencinta Alam dan teman teman #savegumuk jember mengatakan data terakhir yang mereka kumpulkan sekitar 600-an gumuk yang tersisa. Gumuk di jember yang mulai habis pun menimbulkan effect bencana salah satunya ialah puting beliung yang baru saja terjadi. Lihat saja beritanya di tempo. Nah ada salah satu foto yang tanpa gue sadari setelah gue naikin tonal contrasnya, awan tersebut seperti membuat lingkarangan angin.

MAPENSA, sebagai salah satu Pencinta Alam yang ada di Jember berusaha untuk menyelamatkan gumuk yang ada di Jember. Sampai saat ini MAPENSA hampir memiliki sebuah Gumuk yang berada di Desa Antirogo. Kenapa hampir? Karena gumuk yang dimiliki MAPENSA saat ini dulunya merupakan milik perseorangan (seperti gumuk-gumuk lainnya), jadi sebuah gumuk dimiliki oleh beberapa orang dan hingga saat ini baru ¾ dari gumuk tersebut yang telah menjadi milik MAPENSA. Semuga secepatnya MAPENSA mampu memiliki sebuah gumuk dan dikemudian hari MAPENSA mampu memiliki beberapa gumuk. MAPENSA membeli gumuk tidaklah dimaksudkan untuk ditambang melainkan untuk menyelamatkan dan menyediakan tempat untuk koleksi tanaman (baik langka maupun produksi) milik MAPENSA untuk hidup. Dan bila suatu saat smua gumuk yang ada di Jember telah ditambang ataupun dieksploitasi maka masih akan ada gumuk MAPENSA. Walau mungkin MAPENSA tidak mampu memiliki banyak gumuk, namun MAPENSA mampu menyelamatkan minimal 1 gumuk yang nantinya, mungkin, akan menjadi cerita dan legenda bagi masyarakat Jember.
Selain MAPENSA teman teman #savegumuk di jember pun sedang mengumpulkan dana untuk membeli sebuah gumuk sebagai wujud untuk menyelamatkan gumuk dari tangan investor. Dimana #savegumuk ini dirintisoleh para remaja pers yang mulai khawatir dan peduli terhadap lingkungan.

Alfonso, A,2015 (dg sedikit gubahan)

Senin, 11 Mei 2015

Sepasang Angsa Cantik di Tahun 2015

25 maret tahun ini jatuh pada hari rabu, tepat dihari aktif kuliah dan aku lupa ada apa di tanggal ini karena tepat sebelum pergantian tanggal aku masih disibukkan diskusi tentang kegiatan di UKM yang aku ikuti, hingga akhirnya aku dikirimi pesan singkat oleh temanku

“Happy B’day”


Ah iya 25 maret adalah hari ulang tahunku, dan tahun ini usiaku sudah berlukiskan sepasang bebek, 22 tahun, bukan usia remaja lagi sepertinya. Padahal aku dan dia sekarang sedang berada pada sebuah forum yang sama hanya terpisah sekian meter saja. Akupun membalas pesan singkatnya dengan “Masih belum” dia bilang “Sudah” tapi sayang di hpku masih kurang sekian menit, setelah jam di hpku menunjukkan pukul 00.00 aku mengirim pesan ke temanku tadi

“Happy b’day juga Mbar”

Kita bukan saudara kembar, bukan pula saudara seayah dan seibu, kebetulan kita dilahirkan oleh Ibu masing-masing pada tanggal, hari, dan tahun yang sama

“25 Maret 1993”

Bedanya aku lahir di pagi buta dia di siang harinya. Dan yang lebih kebetulan kita dipertemukan pada sebuah UKM yang sama “MAPENSA”. Dia adalah satu-satunya temanku yang memiliki tanggal lahir sama denganku hingga hari ini. Setelah diskusi ringan selesai adek-adek UKMku juga banyak yang mengucapkan. Aku adalah tipe orang yang mudah terpesona oleh hal-hal yang banyak orang bilang itu sederhana namun buatku itu luar biasa. Dan mengucapkan selamat dimalam pergantian adalah sesuatu yang sederhana namun luar biasa untukku. Pada hari itu banyak ucapan dan doa mengalir untukku. Ada yang lewat sosmed, lewat sms, telfon, doa-doa yang terapalkan tulus lewat bibir-bibir mungil, dan banyak lagi yang lainnya.

Ternyata setelah tanggal 25 berakhir belum mengahiri perayaan ulang tahunku ditahun ini. 27 Maret aku masih mendapat kejutan dari teman-teman kosan. Siang itu mbak kosku jatuh dari tangga kosan dan kesiram air panas. Malam harinya ketika aku masih diskusi aku mendapat sms “Dek aku mimisan” otomatis aku ijin meninggalkan forum dan pulang ke kosan berniat untuk melihat keadaan dari mbak kosku. Begitu aku sampai kosan mbk kosku istirahat dikamarnya, akupun berniat mengambil selimut dikamar, ketika membuka kamar ada sesuatu yang berbeda dilantai kamarku. Ada sebuah tulisan dengan spidol biru
“25-03-1993
25-03-2015
Heppy B’Dey Tria”
Terkejut? Iya tapi sekejab, karena aku kembali berfikir mbk kosku butuh selimut, ambil selimut, kasihkan mbak kos dan memasak air untuk membuatkan minum hangat.Masih mencuci panci ada mbak kosku yang lain datang dan ternyata menyiram air satu timba keatas kepalaku. “Ternyata ini Bohong Belaka :D” Gak ada yang sakit mimisan. Kejutan belum selesai, masih ada adegan siram tepung keaku (untung gak ada lempar telur). Karena kejadian ini aku harus mandi ditengah malam. Selesai mandi masih ada kue dan lilin yang menanti. Bukan kue tart mahal, bukan pula kue mahal yang lainnya. Hanya kue gulung sederhana yang berwarna warni namun terasa begitu indah dan hangat. Karena di dalamnya ada serentetan doa dan harapan dari yang memberi disertai pertemanan. Selesai tiup lilin, potong kue, suap-suapan dan foto-foto aku harus kembali ke tempat diskusi. Terimakasih kawan.

Keesokan harinya ternyata masih hariku. Ketika aku pulang dari kampus di sore hari aku menemukan bingkisan cantik yang duduk manis diatas ranjang kamar kosku. Berisikan boneka kesukaanku dan botol air yang smuanya berwarna kesukaanku. Tak hanya itu, di dalamya ada surat yang bertuliskan tangan cantik dari sang pemberi. Didalamnya berisikan ucapan maaf, selamat ultah, doa, kerinduan dan harapan kabar baik dariku dan yang paling tak mengenakkan ada pamitan darinya. Dia akan pergi sekian bulan ke luar kota, bukan kota dengan jarak sekian puluh kilo tapi lebih dari 100 Km. Dan surat inilah yang memotivasiku untuk segera membuat sesuatu kabar baik untuknya.

Sepasang angsa yang berkesan, semuga akan banyak ilmu dan kebaikan untuk sepasang bebek ini nantinya ^_^

Rabu, 01 April 2015

Latah, Mendadak Pendaki

Sepertinya sekarang ini dunia Pencinta Alam yang berorientasi dan terkenal dengan naik gunung sedang sangat digemari, bahkan oleh masyarakat yang dahulunya berkata bahwa naik gunung itu gak penting, bikin capek, bikin kumel, dan perkataan tidak mendukung bahkan terkesan mengejek. Ya, memang masyarakat Indonesia itu ‘Latah’, dan latahnya dimulai dari apa yang mereka tonton dan disukai bahkan yang dikenakan oleh idolanya. Dan karena yang diidolakan itu adalah artis-artis di televisi maka wajar saja kalau sekarang ini banyak masyarakat yang ‘Sok Ngartis’.
Latah tentang naik gunung terbaru terjadi karena adanya film 5 Cm yang membodohi para penontonnya dengan mengajarkan naik gunung tanpa persiapan dan perlengkapan yang benar. Hal ini dapat dilihat dari ramainya gunung-gunung dengan pendaki yang memakai celana jeans ketat, jaket kain tipis, tas cantik kecil mungil dan unyu-unyu dengan barang bawaan yang dipegang tangan bahkan dipanggul. Bayangkan, dibahu kita ada tas unyu-unyu (yang entah isinya apa?) ditangan kanan ada SB, dan kita masih memanggul tenda dome yang dibantu memegang dengan tangan kiri, nah tiba-tiba kita tergelincir pas mau naik, lalu apa yang terjadi? Kita mengikhlaskan diri untuk jatuh bebas atu mengikhlaskan barang-barang diluar tas terjun bebas tanpa ikhlas ditambah dengan semprotan dari teman-teman? Silahkan difikirkan.

 Belum lagi konsumsi yang dibawa hanya berupa mie instan, nah kalau naik gunungnya selama 1 minggu dan makannya 2x dalam 1 hari maka 14 kali kita makan mie instan. Sedangkan menurut dokter kesehatan., mie instan cukup dimakan 1 minggu 1 kali, itupun rentang waktu yang paling singkat untuk mengkonsumsinya. Nah kalau selama 1 minggu kita makan mie terus menerus sudah pada tau dampaknya bukan? Kalau gak begitu pada bawa makanan lain yang judulnya tetep ‘instan’, nah tau sendiri bukan dampak dari makanan instan? Pasti ada bahan pengawetnyakan, kalau selama 1 minggu kita makan makanan instan jadi sudah berapa banyak pengawet yang kita timbun di dalam tubuh kita? Dan bila di dalam tubuh kita banyak tersimpan bahan-bahan kimia, pengawet, maka dalam waktu lama akan berdampak pada kesehatan kita bukan....
Hal lainnya yang sering terlupakan oleh para MARP.A adalah obat-obatan. Kalau di film 5 CM, ketika kita terluka cukup dengan menggunakan plaster dan kita sudah bisa berjalan normal kembali. Bohong banget dan pembodohan akut bukan? Mendaki gunung resiko terluka parah itu selalu ada, kalau kita tiba-tiba jatuh kejurang atau kawah apakah kita bisa langsung memberi plaster dan orang yang jatuh kejurang atau kawah sudah bisa berjalan normal kembali? Tidak, apabila jatuh ke jurang atau kawah kita membutuhkan webbing untuk membawa si korban dari jurang atau kawah tersebut. Belum lagi kita membutuhkan parang untuk membuka jalan demi menolong korban. Atau mungkin pada mau ninggalin yang jatuh tersebut? Tega bener Bung. Atau tiba-tiba temen kita mengalami sesak nafas, apa kita bisa kasih plester terus sembuh? “Loh temenku yang tak ajak mendaki gak punya penyakit asma dan sehat walafiat kok”, kita gak akan pernah tau kejutan yang akan diberikan oleh alam kepada kita. Bisa jadi temen kamu yang diajak mendaki adalah orang yang menurut kamu paling kuat diantara yang lain tapi ternyata kejutan dari alam itu berbeda, teman yang kamu anggap paling sehat ternyata dia kena asma diketinggian sana, atau terkena hipotermi. Nah, sebuah kejutan besar bukan. Kalau kalian mempunyai ilmu PPGD yang cukup baik mungkin hal yang mengejutkan tersebut tidak membuat kamu panik sampai pengen terjun bebas kejurang, tapi kalau kamu tidak punya bekal sama sekali tentang PPGD maka bisa dipastikan kamu lebih memilih berjalan jauh menuju puncak tapi temanmu baik-baik saja atau mungkin piilihan kamu jatuh pada terjun bebas dijurang atau kawah, biar gak bingung ngurusin temen kamu yang sakit (sadis amat ya....). belum lagi di film 5Cm itu diceritakan kalau ada yang terkena batu besar ketika perjalanan kepuncak, ada yang terkena telinganya ampek berdarah dan berdenging sebentar, lalu sembuh. Dan yang lebih parah adalah si cowok yang kepalanya terkena batu besar dan baik – baik saja. Itu  adalah hal yang benar-benar ‘MUSTAHIL’ dan ‘BOHONG”. Bagaimana bisa orang terkena batu sebesar itu namun baik-baik saja, padahal kenyataannya ada yang terkena batu yang jauh lebih kecil dari yang di film 5cm itu sudah patah tulang dan pecah kepalanya serta gegar otak.

Belum lagi, sekarang ini banyak yang pada nekat naik gunung tanpa membawa GPS ataupun peta (bahkan ada yang belum pernah berjumpa dengan peta apalagi bisa baca peta) dan keahlian membaca tanda alam lainnya. Dan ternyata gunung yang kalian daki mempunyai jalur yang cukup bikin kepala puyeng. Awalnya sih kalian pada bilang, ‘udah deh berangkat aja. Toh disana ada jalannya kok, “paling” juga ada tandanya entar.’ Dan akhirnya kalian berangkat dengan membawa “Paling” dan ‘bondo nekat’ dari rumah. Eh ternyata sampai disana jalurnya bikin orang pengen terjun bebas karena banyak banget percabangan. Masih untung kalau ada marka walau jarak antar marka gak normal (lebih jauh dari jarak marka normal) atau kalau pas mujur ketemu orang yang sedang naik gunung, jadi bisa nanya. Nah kalau marka dan orang gak ada trus yang kalian lakuin apa? Pada mau nanya ke pohon? Nanya ke hewan disana? Oh iya aku lupa kalau sekarang banyak grub-grub di sosmed yang memfasilitasi para’PENDAKI GUNUNG DADAKAN’untuk naik keatas sana. Dan gak lupa, banyak juga yang dengan bangganya nulis di dinding grub ‘Permisi mbk2 dan mas2, aq rencananya sama temenq berdua nih mau kegunung A pada tanggal sekian. Adakah yang mau gabung dan isa bantu kasih tau jalurya? Maklum mas/mbk, masih pemula’ -_- dan dengan gesitnya para anggota grub ini segera berlomba-lomba menunjukkan eksistensi dan dirinya masing-masing memberikan komentar ke status tersebut dengan kata2 ‘Ah mbk lewat jalur sini aja lebih gampang’ ‘sama aku aja mbk nanti tak kasih tau jalurnya’ dan banyak komentar sejenis. Tanpa memperhitungkan A,B, C,,,,, Z. Kalau ada yang posting foto sedang berada di tempat A, B, C dll pada bereput buat posting nanya dimana itu, jalurnya lewat mana, biaya habis berapa dan sejenisnya tapi ketika ada yang posting di grub tentang hal-hal positif mendaki gunung eh malah gak ada yang nanggepin, bahkan sekedar kasih jempol aja ogah (MIRIS).
Sepertinya banyak yang pada salah tangkap dengan film 5 cm ini. Kalau menurut aku pribadi nih ya, film 5 cm itu sebenarnya gak menceritakan tentang mendaki gunung apalagi keamanan dan manajemen yang baik saat mendaki, tetapi lebih pada persahabatan. Lebih pada kerja keras dan keyakinan dalam mencapai sebuah impian. Hanya saja sebuah kerja keras, keyakinan dan persahabatan yang dibalut dan dibumbui oleh kegiatan mendaki gunung. Yang mungkin juga skalian memperlihatkan keindahan indonesia serta sedikit menyentil kita untuk lebih mencintai negeri sendiri. Daripada kita sering keluar negeri untuk menikmati libur panjang dengan biaya yang tidak sedikit maka kenapa tidak untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga untuk mengajarkan anak kita mencintai negeri sendiri lewat keindahan alamnya, akan tetapi dengan tetap menjaga keindahan, kebersihan dan keasriannya. Tidak dengan cara merusak yang sudah ada dengan yang baru dimana hal yang baru tersebut dirasa lebih modern akan tetapi dampak panjangnya memusnakan yang ada bahkan endemik di suatu daerah atau kawasan. Misal nih, mandi di danau, nah loh, itu aer danau kan dibuat minum, masak dan lain sebagainya kok ya masih dibuat mandi, apa kita mau minum dan makan dari kotoran yang ada di tubuh kita atau danau yang dibuat untuk mencuci sisa-sisa masakan nah loh itukan mau dibuat masak lagi masak iya kita mau masak pakai air yang kotor? Air danau kan gak mengalir selayaknya air sungai ataupun air laut Bung, jadi butuh waktulebih lama untuk tanah menyaringnya menjadi bersih. Eits bukan berarti kita isa seenaknya membuang sampah atau apapun kedalam sungai atau laut lo yaaaa... ayolah kenali alam indonesia namun tetap mencintai dan menjaganya demi anak cucu kita kelak ^_^
Ternyata ‘Latah’ naik gunung gak hanya terjadi karena film 5 cm aja, dulu sekitar tahun 2005 ada juga film yang bercerita tentang alam dan sedikit dunia kepencinta alaman, SOE HOK GIE. Tetapi film ini berbeda dengan 5 CM.  Dimana pada film ini lebih bercerita tentang seorang mahasiswa UI yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta. Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai. Lebih pada mahasiswa yang kritis, jujur dan cinta indonesia. Tapi sayang, Gie harus meninggalkan dunia dipelukan tanah tertinggi di Pulau Jawa dengan cita-citanya yang sampai sekarang belum terwujud.
dan yang akan datang ada Film "Romeo Rinjani". Entah filem ini akan membawa penonton ke arah mana dan memiliki nilai edukasi yang seperti apa. Namun kalau dilihat dari cover luarnya maka perkiraanu filem ini akan berdampak tidak berbeda jauh dengan film-film petualangan naik gunung yang sebelumnya. dilihat dari pakaian yang digunakan pemain film tersebut dari cover saja sudha mengajarkan hal yang salah. mana ada orang yang mau mendaki menggunakan baju tak berlengan dan celana super duper pendek, emang mau lecet-lecet itu mbak pahanya yang mulus? apa mau pamer paha diketinggian sana?Ayo kawan jadi pendaki yang kritis dan pintar sedikitlah, kalau memang hal-hal dalam filem gak mendidik dan mengajarkan hal salah yang nantinya ditiru dan merugikan banyak orang kenapa kita diam saja?????

Sabtu, 28 Maret 2015

Apa yang kita perbuat untuk keindahan di ketinggian sana???

Menjejakkan kaki ditanah tertinggi? Siapa yang tidak ingin. Menikmati keindahan tempat-tempat di ketinggian sana sambil berpelukan dengan dinginnya kabut? Siapa yang tidak mau. Meneguk air segar dari sumber? Siapa yang tidak tergoda. Menikmati langit yang berhiaskan jutaan bintang yang bersanding dengan senyuman manis bulan sabit? Siapa yang tidak terpesona.

Namun ketika kaki telah menapak di ketinggian apa yang kita dapatkan? Lebih dekatkah kita dengan sang pencipta? Setelah menikmati keindahan apakah yang akan kita perbuat? Memetik yang tidak seharusnya? Mengambil yang tidak semestinya? Atau menjaga dengan sepenuh jiwa raga? Setelah meminum air dari sumbernya lalu apa yang akan kita perbuat, mencuci sisa-sisa masak kita di dalamnya? Mandi dan merasakan dinginnya air yang merasuk kedalam pori-pori tubuh kita atau menjaganya supaya tetap jernih? Setelah menikmati langit yang bertabur bintang apa yang akan kita lakukan, memperjelas keindahan langit dengan menebang dahan-dahan pohon yang menghadang? Atau bercumbu dengan savana disana ditemani belaian angin?
Apapun yang kita lakukan semuga kita tetap meninggalkan keindahan dan harta berharga untuk anak cucu kelak.
Semuga kita tidak mengikuti arus yang salah, menjadi korban film-film yang mengedepankan harga jual dibandingkan mengajarkan etika menikmati dan menjaga alam.
Semuga kita menjadi penikmat dan pendaki yang konservatif.

Mendaki dan Konservasi

Mendaki gunung? Siapa yang tidak bisa? Menjadi seorang Pecinta Alam? Bisa, tinggal mengikuti ekstrakulikuler pecinta alam sudah bisa menyandang gelar Pecinta Alam. Tapi menjadi seorang Pecinta Alam yang KONSERVATIF? Tunggu dulu, tidak smua orang tau apa itu konservasi, bagaimana melakukan kegiatan konservasi dan bagaimana penerapannya. Banyak orang berfikir bahwa pecinta alam yang konservasi itu adalah pecinta alam yang sering melakukan penanaman, sering mengamati burung, sering melakukan analisa air, melakukan analisa vegetasi, hanya sebatas itu, iya segitu.



Namun apabila dilihat lebih luas lagi, kita bisa melakukan konservasi melalui banyak cara, misal kita melakukan dan memiliki desa binaan atau anak-anak binaan yang nantinya kita ajarkan kepada mereka hal-hal sederhana dari konservasi sehingga sejak kecil mereka sudah menyukai dan tahu apa itu konservasi. Atau bisa juga kita hitung jumlah karbon yang dihasilkan oleh manusia yang mampu diserap oleh tanaman (ingat, setiap tanaman mempunyai kemampuan berbeda-beda dalam menyerap CO2), lalu seberapa banyak oksigen yang mampu dihasilkan oleh tanaman (tanaman juga menghasilkan oksigen yang berbeda-beda), lalu kita butuh menanam berapa pohon untuk sekian manusia yang ada di sekolah atau kampus kita, lalu kalau mau lebih jauh bisa kita hitung secara ekonomi juga.



Bisa juga kita melakukan tindakan konservasi lewat seni, entah seni tulis menulis, seni teater, seni musik dan seni-seni yang lainnya. Bisa pula kita melakukan konservasi lewat hukum (untuk yang jurusan hukum) contoh kecilnya bisa kita lindungi hutan (ilegal logging) dengan menindak tegas para pelaku serta menegakkan hukum yang ada. Juga bisa kita manfaatkan pekarangan disekitar kita untuk menanam tanaman-tanaman obat atau tanaman langka lainnya, selain bermanfaat sebagai obat, memiliki nilai ekonomi juga dapat menambah oksigen disekitar kita. Banyak lagi contoh kegiatan konservasi disekitar kita, tapi sayang kita kurang memperhatikan hal-hal kecil yang bermakna besar. Konservasi jangan difikir yang terlalu rumit dan kaku. Karena sebenarnya konservasi itu sederhana, asal kita mau lebih peduli pada sekitar yang ada ^_^

Rabu, 25 Maret 2015

Jejak Jejak Mentok

Tiba-tiba malam ini aku ingat tentang kita, tentang jejak-jejak waktu yang pernah kita lewati bersama, tentang goresan-goresan kisah masa lalu. Sepertinya asyik kalau didendangkan bersama malam dan segelas kopi yang ditemani gemerlap bintang malam. Entah kita bercerita di ketinggian sana atau bersanding dengan deburan buih putih atau dipeluk pelangi diair yang jatuh mencumbu bumi. Smuanya indah untukku.
Kalian ingat tidak puncak pertama yang kalian gapai pertama kali? Ya puncak Rengganis yang manis dan puncak Argopuro yang kuno sebagai happy camp angkatan kita. Sayang skali aku tidak bisa ikut waktu itu, karena aku lebih memilih ospek daripada puncak-puncak itu, karena saat itu aku tak terlalu peduli dengan puncak. Ternyata Rengganis-Argopuro kedua akupun gak ikut. Dan akhirnya aku diperbolehkan menggapai puncak bersama kalian ketika LPH V diadakan, sekaligus ini adalah puncak pertamaku. Sayang skali dari angkatan kita hanya aku, Mlitos, Nunung, ABK, Remason saja yang ikut. Ketika aku menapaki setiap langkah digunung ini, awalnya aku bilang bahwa aku gak mau naik gunung lagi karena capek (ya Peg. Hyang kan gunung tercantik dengan jalur terpanjang). Tapi ternyata aku selalu merindukan kesunyian di ketinggian sana dan belaian kabut dinginnya.
Akhirnya aku kecanduan dengan puncak.

Puncak kedua kita adalah puncak Lemongan yang berhasil kita gapai bersama. Ya walau gunung ini bukanlah gunung yang tinggi, karena hanya 1671 Mdpl, bukan pula gunungtercantik apalagi tersulit di jawa tapi kita temukan banyak hal disini. Namun sayang kali inipun tidak smua angkatan kita yang ikut, hanya aku, Nunung, Mehong, Gedebuk dan ABK saja yang ikut. Katanya gunung ini adalah gunung yang lebih ‘Ajib’ jalurnya daripada semeru. banyak yang bilang kalau sudah sampai di puncak Lemongan puncak semeru gak akan berat. Saking beratmya jalur yang dilalui banyak yang melontarkan isi hati setelah sampai dibawah kembali, bahkan ada yang berjanji kalau gak akan kembali ke Lemongan kalau belum mencapai puncak Jalur tersulit di Jawa, Raung. Ada-ada saja.

Puncak ketigaku bersama kalian yaitu puncak Singa, Gunung Raung. Mungkin jalurnya tidak semenakutkan puncak Sejati, Raung tapi cukup memberi pelajaran pada kita. Beban berat dipundak, jalur yang naik perlahan tiada henti dan benar-benar menguji emosi diri. Disinilah kita membutuhkan manajemen yang benar-benar baik untuk 4 hari kedepan tanpa sumber air dan jurang di kanan kiri kaki kita, bahkan aku ingat sekali bagaimana ada drama korea diatasa sana, didekat jurang dan jalur yang hanya bisa dilewati satu kaki yang membutuhkan keseimbangan penuh, dan aku yang sebenarnya takut dengan ketinggian harus berhadapan dengan yang demikian. Oke, bagus bukan? Belum lagi kita sempat salah jalur (maklum belum pernah ada yang kesana), hampir saja kita jalan kegunung suketan untung saja bertemu dengan para pencari burung yang berakhir pada kita yang balik kucing. Dan lagi lagi disayangkan karena personil tidak lengkap. Hanya ada aku, nunung, ABK dan Memes.

Puncak selanjutnya adalah puncak abadi para dewa, MAHAMERU. Sudah banyak dari kalian yang ketempat ini, mehong bahkan sudah 3x kesini, Nunung, ABK, Mencong, Loi juga sudah. Clepuk sudah 4x walau muncaknya baru 1x, bu RT sudah 1x walau hanya sampai ranu kumbol. Aku hanya 1x kumbolo dan yang ke2 baru sampai puncak. Dan kembali terulang aku tidak disini dengan kalian, hanya aku dan Clepuk yang ditemani Senior Tega yang super sabar. Hahahaaa... banyak yang bilang kalau sudah sampai di puncak Lemongan puncak semeru gak akan berat, faktanya kalau aku disuruh memilih puncak lamongan apa semeru dengan pasti akan aku jawab Lemongan. Ya aku akui kumbolo memang menarik, Kalimati memang cantik tapi jalur kepuncaknya itu lo, W.O.W banget.

Aku lebih memilih ke Argopuro daripada ke Semeru, dan aku lebih memilih kepuncak Raung daripada puncak Semeru. Karena puncak Raung bukanlah longsoran hanya dikanan kiri jurang.
Ah kita tidak hanya bermain dihutan dan puncak-puncak menawan itu, kita juga sering menyapa pantai. Kalian ingat waktu kita ke ALAS PURWO? Ya disana kita menyapa Sadengan, Triangulasi, Pancur dan Plengkung. Iya plengkung yang jaraknya 9 Km dari pancur, yang kita lalui dengan berjalan kaki dihiasi bunga dikanan kiri dan bertemu rusa yang makan. Plengkung yang ombaknya terkenal seantero dunia. Iya, kita pernah kesana, dan kembali disayangkan hanya ada aku, nunung dan Remason.

Hai, kita tidak hanya menyapa Alas Purwo, kita juga bermain air di Teluk Hijau, disini kita bisa bercinta dengan air tanpa lelah, panas mataharipun tak dirasa, namun kembali disayangkan hanya ada aku, Clepuk, Nunung dan Bu RT.

Kita juga pernah bermain di air terjun tancak Saat DIKJUT, kita aplikasi Analisa Air, Navigasi Darat dan Analisa Vegetasi disana. Lagi dan disayangkan lagi hanya ada aku, Nghoo, Nunung, Gedebuk, Remason, Clepuk, Bu RT, Mehong, ABK, DumpTruk dan Mencong tapi sepertinya inilah momen kita berjalan-jalan bersama dengan personil terbanyak dibandingkan momen lain. Namun sayang momen ini tak terulang ketika kita menyapa air terjun berbeda, Madakaripura.

Disini hanya ada aku, Nunung, Nghoo, Clepuk, Mehong dan ABK. Apakah kalian tau? Air terjun ini begitu menawan. Bahkan bisa membuat aku yang dulunya sama skali tidak suka dengan air terjun bisa jatuh cinta. Semuga kelak aku bisa mengulang tempat ini bersama kalian.
Kemaren juga sempat buming B-29. Ramai dibicarakan bukan? Dan kita kesana bersama-sama, lagi-lagi hanya srikandi yang kesana karena hanya aku, Nunung, Mehong, Clepuk yang menyapa bukit 2900 mdpl itu. Taukah kalian kalau perjalanan kesana sungguh menarik, kita disuguhi bunga berwarna kuning dikanan kiri yang terhambar bak permadani menyapa sang putri. Disana kita juga bisa melihat puncak Mahameru dari dekat, indah dan gagah. Jonggring saloka yang tiada henti memberitahu bahwa dia hidup lewat muntahan asap tebalnya seolah menjadi saksi kedatangan kita ditempat itu. Perjalanan dari parkiran yang kita tempuh dengan kaki telanjang dan jalan berdebu tak menyusutkan niat kita untuk sampai ditempat itu. Bukahkah tidak merasa lelah ketika kita jalan bersama dengan isian celoteh dan cerita penuh tawa? Keindahan lain yaitu ketika pagi kita menyaksikan terbitnya mentari dari jarak yang dekat. Ah sayang aku sedikit kecewa, ternyata tak seindah yang ada dibayanganku namun tetap berkesan karena itu aku saksikan dengan kalian walau tak smuanya ikut.
Yah sampai aku menulis cerita ini aku masih selalu berdoa dan merapal mantra semuga, semuga kelak kita mampu berdiri dipuncak suatu gunung bersama-sama. Tidak perlu ke gunung dengan jalur terpanjang dan tercantik di Jawa, Argopuro, tidak juga ke gunung dengan jalur tersulit di Jawa, Raung, apalagi ke Puncak tertinggi Jawa, Semeru hanya sekedar kepuncak Gumuk aku sudah senang, asal bersama kalian, kita ber17. Atau kalian gak mau mendaki, kita masih punya pantai dengan buih indah diplengkung atau kalian ingin pantai yang dekat-dekat saja, tidak masalah, atau mungkin kalian bosan dengan ombak dan pasir, kita masih punya air terjun Madakaripura yang menawan, ah mungkin kalian mau mengenang kita DIKJUT di tancak, gak apa-apa, dimanapun tempatnya asal kita bisa ber-17 aku suka.